Metode
Penelitian Filsafat
Khusna Rahma
Denti
Institut Agama Islam Negeri Metro
E-mail:khusnarahma12@gmail.com
Metode
adalah cara yang dilakukan untuk mencapai tujuan penelitian.[1] Dapat
juga diartikan metode dapat dilakukan untuk seorang guru,dosen ataupun seorang
pendidik salah satunya adalah di bangku perkuliahan, karena variasi metode
dibangku perkuliahan sangat jauh berbeda dibangku skolah, variasai metode di
perkuliahan dapat meningkatkan siswa atau seorang pendidik dan lebih meningkat
aktivitas belajarnya, metode yang dipakai saat pada proses belajar mengajar.[2]
Selain itu Metode adalah tata cara dari suatu
kegiatan berdasarkan perencanaan yang matang, mapan, sistematis, dan logis.
Metode dapat digunakan salah satunya yaitu sebagai ilmu hukum yang bertujuan
untuk mencari kebenaran atau keadilan yang benar, untuk mencari keadilan yang
benar yaitu maka dengan cara ditentukanlah cara untuk mencarinya yang disebut
metode.[3]
Seseorang
menggunakan penelitian adalah bertujuan untuk mencapai keyakinan dan keyakinan
tentang kebenaran hanya diperoleh dengan cara mencari dalam praktik.[4]
Filsafat mampu menjawab beberapa masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu
pengetahuan, misalnya hakekat jiwa, filsafat menjawab berbagai masalah-masalah
manusia dengan mengadakan perenungan-perenungan kefilsafatn, karena filsafat
tidak lain adalah kebenaran, demikian menurut Aristoteles, namun kebenaran yang
dihasilkan oleh hasil berfikir filsafat tidak selalu mendapatkan titik temu.
Filsafat adalah ilmu kebenaran dan kebenaran fisafat diperoleh sebagai
kebenaran hasil berfikir yang dilakukan secara radikal, spekulatif, dan
universal atau menyeluruh. Filsafat menemukan kebenaran dalam melakukan
perenungan yang melakukan percobaan untuk menyusun suatu sistem ilmu
pengetahuan yang rasional dan memadai, perenungan kefilsafatan bertujuan untuk
memahami dunia tempat hidup dan memahami diri sendiri. Perenungan kefilsafatan
tidak berusaha menemukan fakta, tetapi menerimanya dari mereka yang menemukan
fakta tersebut. Fakta mengahsilkan kebenaran hasil berfikir yang radikal,
spekulatif, dan universal atau menyeluruh dengan melakukan perenungan
kefilsafatan atau menggunakan metode analisi dan sintesis.[5]
Kegaiatan
penelitian memerlukan metode yang keras, yaitu metode kuantitatif dan metode
kualitatif pada mulanya metode kuaantitaif dianggap memenuhi syarat sebagai
metode penilaian yang baik karena menggunakan alat-alat atau mengatur intrumen
atau gejala-gejala tertentu dan diolah secara statistik tetapi dalam
perkembangnya dalam berupa angka dan pengolahan matematis tidak dapat
menerangkan kebenaran secara meyakinkan, oleh sebab itu digunakan metode
kualitatif, yang dianggap mampu menerangkan gejala atau fenomena secara lengkap
dan menyeluruh. Penelitian merupakaan rangkaian kegiatan ilmiah dalam rangka
pemecahan suatu permasalahan, jadi penelitian bagian dari usaha pemecahan
masalah. Fungsi penelitian adalah mencarikan penjelasan dan jawaban terhadap
permasalahan serta memberikan alternatif bagi kemungkinan yang dapat digunakan untuk
pemecahan masalah, penjelasan dan permasalahan itu dapat bersifat abstrak dan
umum seperti halnya dalam penelitian dasar dan dapat pula sangat konkret dan
spesifik yang biasanya pada penelitian terapan.[6]
Kata filsafat dari bahasa yunani yaitu dari
kata philos yang artinya cinta dan kata sophia yang artinya pengetahuan yang
bijaksana, kemunculan filsafat pada abad ke 5 SM merupakan pendobrakan
terhadapa zaman mitos pada masa itu, terjadi revolusi pemikiran terhadap
dominasi zaman mitos ada kebenaran, masa ini merupakan masa penting dimana akal
digunakan dalam upaya mencari kebenaran, akal sebagai carana untuk mencari
kebenaran akal sebagai sumber kebenaran. Dalam perkembangan fisafat melahirkan
cabang-cabang ilmu, yang berkembang untuk menjadi ranting-ranting ilmu, dan
perkembangnya ilmu menjadi ilmu yang lebih spesifik, dalam perkembangnya banyak
sekali permasalahan mendasar muncul, yang menyebabkan ilmu semakin jauh dari
hakkatnya. Ilmu filsafat juga bisa untuk dijadikan motivasi blajar semangat
siswa, dan motivasi adalah pengaruh kunci kesuksesan siswa, tanpa motivasi
proses pembelajaran akan sulit bagi siswa untuk mencapai kesuksesan.[7]
Kegiatan
penelitian memerlukan metode yang jelas, dalam hal ini dalam hal ini ada dua
metode penelitian yaitu metode kualitatif dan kuantitatif. Pada mulanya metode
kuantitatif memenuhi syarat, sebagai metode penelitian yang baik, karena
menggunakan alat-alat instrumen, untuk mengukur gejala-gejala tertentu. Metode
kualitatif dianggap mampu untuk menerangkan kebenaran secara meyaknkan. Taip
penelitian memegang paradigma tertentu, paradigma tidak dominan lagi dengan
adanya pedoman baru. Paradigma merupakan seperangkat asumsi yang longgar
dijadikan sebagai petunjuk dalam berfikir dan meneliti.[8]
Penelitian
kuantitatif sebaiknya harus dikomendasikan dengan studi-studi kasus yang lebih
kualitatif, sehinnga dapat diperoleh indikator kuantitatif yang lebih baik, berdasarkan
pengalaman dari studi-studi sektor mengusulkan bahwa penerapan metode
penelitian yang didasarkan pada wawancara mendalam dengan manejemen lebih
bagus.[9]
Filsafat merupakan penyusunan sistem, analisa
atau perincian ialah sintesa atu pengumpulan, yakni mengumpulkan semua
pengetahuan yang dapat diperoleh untuk menyusun suatu pandangan dunia,
penyusunan sistem demikianlah proses ini sering dinamakan filsafat, namun
demikian fisuf cenderung memperluas prinsip-prinsip tertentu sehingga meliputi
seluruh kenyataanya.[10]
Metodologi
merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang cara-cara dalam mencari dan
menemukan sekumpulan data yang diperlukan untuk memenuhi kepentingan ilmiah
dalam suatu rangkaian proses penelitian, metodologi sendiri sebenarnya
merupakan kata jadian yang berasal dari tiga suku kata, yaitu: meta, hodos, dan
logos. Ketiga suku ini seharusnya ditulis menjadi methodologi, namun karena
tidak populer, maka tidak lazim dikenal orang, namun yang lazim dikenal orang
yaitu dengan tulisan metodologi.[11]
Penelitian
juga bisa diartikan sebagai instumen utama penelitian, yang dapat melakukan
penyesuaian sejalan dengan kenyataan-kenyataan yang terjadi dilapangan karena
peneliti sebagai instumen penelitian maka dapat berhubungan dengan subyek
penelitian dan mampu memahami keterkaitanya dengan kenyataan dilapangan peneliti
juga dapat mengantisipasi dan mengganti strategi bila kehadiranya mengganggu
fenomena yang sedang terjadi.[12]
Adapun
teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif yang utama adalah observasi
partisipatif dan wawancara mendalam, ditambah dengan kajian dokumen yang
bertujuan tidak hanya untuk menggali data tetapi juga untuk mengungkap makna
yang terkandung dalam latar penelitian, dalam melakukan observasi partisipatif,
peneliti berperan aktif dalam kegiatan dilapangan, sehingga peneliti dengan
mudah mengamati, karena terbaur dengan apa yang telah diteliti.[13]
Metodologi
penelitian yang baik akan menghasilkan paradigma yang baru dalam pengembangan
ilmu pengetahuan. Hasil pemikiran paradigma selalu tidak mencukupi dan terbuka
untuk perubahan selanjutnya, dengan kata lain hasil pemikiran melalui perubahan
paradigma akan selalu bersift relativ, hal ini bergantung pada data dan fakta
yang diperoleh dari dunia nyata kemudian dianalisis menurut kaidah-kaidah
ilmiah.[14]
Pada
dasarnya metode kuantitaif dan kualitatif itu berbeda, terutama dalam axioma
dan ciri-cirinya. Oleh karena itu berbagai perbedaan yang ada antara dua
metode, terutama dari segi konsep-konsep dasar serta berbagai aspek dari masing-masing
metode. Maka biasanya hanya salah satu pendekatan digunakan dalam penelitian.
Keadaan dalam universitas-universitas indonesia menunjukkan bahwa metode
kualitatif menjadi pendekatan yang rlative lebih baru dan sampai sekarang
sebagian besar penlitian yang dilakukan menggunakan pendekatan kuatitatif
karena jumlah orang yang sungguh memahami metode kualitatif masih sedikit.[15]
Referensi
Aunu Rofiq Djaelani. “Teknik Pengumpulan Data Dalam Penelitian
Kalitatif” vol 20 (n.d.): hal 82.
F.X Nandar. “Proposisi Teoriritis Cakupan Pengkajian
Dan Penelitian” vol 17 (n.d.): h. 281.
Ghullam Hamdu, Lisa Agustina. “Pengaruh Motivasi
Belajar Siswa Terhadap Prestasi Belajar
Ipa Di Sekolah Dasar” vol 12 (n.d.): hal 81.
Hasyim Ali Imran. “Penelitian Komunikasi Pendekatan
Kualitatif Berbasis Teks” vol 19 (n.d.): hal 130.
Hermanto. “Landasan Filsafat Pendidikan Ilmu
Pengetahuan Sosial” vol 1 (n.d.): hal 6.
Lukas S. Musianto. “Perbedaan Pendekatan Kuantitatif
Dengan Pendekatan Kualitatif Dalam Metode Penelitian” vol 04 (n.d.): hal 124.
Mohammad Mulyadi. “Penelitian Kuantitatif Dan
Kualitaif Serta Pemikiran Dasar Menggabngkanya” vol 15 (n.d.): hal 129.
Mulyo Wiharto. “Kebenaran Ilmu Filsafat Dan Ilmu
Agama” vol 2 (n.d.): hal 4.
Naila Hayati. “Pemilihan Metode Yang Tepat Dalam
Penelitian (Metode Kuantitatif Dan Metode Kualitatif)” vol 4 (n.d.).
Nandiyah Abdullah. “Penelitian Kualitatif Dalam
Psikologi,” n.d., hal 100.
Pupu Saeful Rahmat. “Penelitian Kualitatif” vol 5
(n.d.).
Sobirin Malian. “Perkembangnya Filsafat Ilmu Serta
Kaitanya Dengan Teori Hukum” vol 33 (n.d.): hal 66.
Sri Mulatsih dan Hartiningsih. “Suatu Kasus Untuk
Melengkapi Data Kuantitatif Dengan Studi Kualitatif Dalam Penelitian” vol 20
(n.d.): hal 06.
Suyahmo. “Pengembangan Rancanagan Perkuliahan Sifat
Moral Di Lembaga Pendidikan Tenaga Pendidikan” vol 14 (n.d.): hal. 29.
Wahyudin. “Paradigma Filsafat Ketuhanan Dalam
Konteks Imanensi Dan Transendensi.” Akademika vol 15 (n.d.): hal 157.
[2] Suyahmo,
“Pengembangan Rancanagan Perkuliahan Sifat Moral Di Lembaga Pendidikan Tenaga
Pendidikan” vol 14 (n.d.): hal. 29.
[3] Sobirin
Malian, “Perkembangnya Filsafat Ilmu Serta Kaitanya Dengan Teori Hukum” vol 33
(n.d.): hal 66.
[7] Ghullam
Hamdu, Lisa Agustina, “Pengaruh Motivasi Belajar Siswa Terhadap Prestasi
Belajar Ipa Di Sekolah Dasar” vol 12
(n.d.): hal 81.
[8] Naila
Hayati, “Pemilihan Metode Yang Tepat Dalam Penelitian (Metode Kuantitatif Dan
Metode Kualitatif)” vol 4 (n.d.).
[9] Sri
Mulatsih dan Hartiningsih, “Suatu Kasus Untuk Melengkapi Data Kuantitatif
Dengan Studi Kualitatif Dalam Penelitian” vol 20 (n.d.): hal 06.
[10] Wahyudin,
“Paradigma Filsafat Ketuhanan Dalam Konteks Imanensi Dan Transendensi,” Akademika
vol 15 (n.d.): hal 157.
[11] Hasyim
Ali Imran, “Penelitian Komunikasi Pendekatan Kualitatif Berbasis Teks” vol 19
(n.d.): hal 130.
[13] Aunu
Rofiq Djaelani, “Teknik Pengumpulan Data Dalam Penelitian Kalitatif” vol 20
(n.d.): hal 82.
[14] Mohammad
Mulyadi, “Penelitian Kuantitatif Dan Kualitaif Serta Pemikiran Dasar
Menggabngkanya” vol 15 (n.d.): hal 129.
[15] Lukas
S. Musianto, “Perbedaan Pendekatan Kuantitatif Dengan Pendekatan Kualitatif
Dalam Metode Penelitian” vol 04 (n.d.): hal
124.

12 Oktober 2017 pukul 01.41
mantap buk...